Dari Perspektif Anak tentang Paksaan Orang Tua

Dalam hidup, manusia sering dihadapkan pada pilihan-pilihan. Ada yang bisa diputuskan dengan mudah, ada juga yang sulit. Setiap keputusan yang diambil harus dipikirkan dengan matang, tapi tak jarang pula yang memilih untuk memakai insting dalam menentukan pilihan.

Sebagai orang tua, anak adalah hal yang paling berharga, bahkan mungkin lebih berharga daripada dirinya sendiri. Saking sayangnya, terkadang orang tua merasa bertanggung jawab atas kehidupan anaknya termasuk dalam menentukan sebuah pilihan.

Orang tua mana sih yang membiarkan naknya kesusahan? Tapi, apakah merencanakan kehidupan anak tanpa mendiskusikan dengan anak tersebut adalah sesuatu yang tepat?




---

Ketika berada di tahun terakhir SMA, aku bercita-cita untuk menjadi seorang arsitek. Setelah berselancar di dunia maya, aku menemukan informasi mengenai seleksi masuk perguruan tinggi di BINUS dan aku tertarik untuk mencoba.

Formulir pendaftaran dan semua persyaratan terisi penuh, dengan yakin aku memilih program studi Arsitektur. Saat itu aku mencoba jalur beasiswa yang jumlahnya akan tergantung dari hasil test.

Singkat cerita, aku berhasil menyelesaikan rangkaian test yang disediakan, termasuk menggambar dan hasil akhirnya aku diterima disana dengan beasiswa. Bisa membayangkan rasanya bisa mencapai apa yang dicita-citakan? Senang sekali. Tapi rasa senang tersebut tak berlangsung lama karena tiba-tiba aku diarahkan untuk memilih jurusan ekonomi.

Ternyata patah hati yang ini lebih sakit daripada cinta bertepuk sebelah tangan. Saat itu aku tidak bisa bernegosiasi, argumenku lemah, jadi mau tidak mau aku harus menuruti apa yang diarahkan. Akhirnya, aku diterima di sebuah universitas negeri dengan jurusan manajemen. Tapi hambar, beda dari sebelumnya.

Aku menyelesaikan masa studiku selama  3,8 tahun dan di wisuda. Saat lulus dan menjadi seorang sarjana, aku lega. Aku bisa menyelesaikan bakti kepada orang tua, aku bisa menjadi seorang sarjana ekonomi yang selama ini orang tuaku cita-citakan.

"I'm done. And now, let me choose my own life.", begitu pikirku.

Aku tidak marah, tidak pula menyesal. Ilmu yang aku dapatkan juga bermaanfaat. Mungkin awalnya aku kecewa, tapi akhirnya aku belajar banyak dari situasi tersebut.

---

Sejak saat itu aku bertekad, ketika aku menjadi orang tua, menjadi seorang ibu, aku tidak mau membatasi hidup anak dengan ekspektasi orang tuanya. Menurutku, anak adalah seorang individu yang berhak memilih hidupnya sendiri, apalagi ketika sudah dewasa. Aku akan mendukung cita-citanya kelak, selama tidak bertentangan dengan agama dan norma sosial.

---

Kamu tahu kan Najwa Shihab dan Maudy Ayunda? Dua wanita cerdas ini berbincang di Catatan Najwa mengenai keputusan study Maudy Ayunda di Stanford University. Senang sekali melihat kedua individu ini. Mereka sukses di bidangnya masing-masing karena mereka tahu apa yang mereka mau.

Maudy Ayunda bercerita bahwa sejak kecil dia dilibatkan dalam pemilihan keputusan, dia diajarkan untuk bisa memecahkan masalah disertakan dengan alasannya. Meskipun masih kecil, Maudy dibiasakan untuk berpendapat, diajak berdiskusi, diajak berpikir kritis, hingga akhirnya menjadi pribadi mengagumkan.

Mbak Nana juga. Beliau bercerita sejak kecil diharuskan untuk memutuskan pilihan, salah satunya untuk masuk SMP Islam atau SMP Negeri. Sejak kecil diajarkan untuk berani mengambil keputusan besar, berdasarkan pertimbangan yang matang.

See? Apakah dengan membiarkan anak memilih jalur hidupnya sendiri akan membuat anak tersebut tidak sukses? Anak yang disediakan jalan mulus oleh orang tuanya hanya akan berjalan dan sampai ke tujuan, tapi anak yang dibiarkan memilih jalannya sendiri akan menikmati prosesnya dan akan lebih mengenal dirinya sendiri.

---

Ada banyak bentuk perlakuan orang tua kepada anak yang sebenarnya membuat anak tidak bisa ekspresif. Mungkin harus memilih jurusan kuliah yang diinginkan orang tua hanyalah satu dari sekian banyak kenyataan hidup yang harus dijalani anak. Beberapa diantaranya bisa menerima dan menjalaninya dengan lapang dada, tapi tak jarang yang memendam perasaan kesal tersebut dan berujung depresi.

Dampak buruknya, hubungan anak dan orang tua pun akan renggang. Anak akan tertutup kepada orang tuanya. Mereka merasa sulit berkomunikasi dan membina hubungan baik dengan orang tuanya. Orang tua tidak lagi menjadi sosok hangat dan penyayang di mata mereka, tapi sosok tegas, keras dan pemaksa.

Menurut penelitian dari University of Vermont, aturan yang terlalu ketat kepada anak bisa menyebabkan anak menjadi tertekan dan memiliki perilaku kejam terhadap teman ketika dewasa. Anak juga bisa menjadi pembangkang dan penentang jika terus-terusan dibiarkan dalam kondisi tersebut. 

Sebenarnya jika dikomunikasikan dengan baik, mungkin orang tua dan anak bisa mengambil jalan tengahnya. Negosiasi juga bisa menjadi pilihan bagi orang tua dan anak, asalkan dihadapi dengan kepala dingin. Orang tua dan anak harus menahan ego masing-masing, sehingga kesepakatan dari hasil komunikasi yang baik akan didapatkan.

---

Fenomena ini membuatku membuka diskusi singkat. Apa yang sudah terjadi bukan untuk dikeluhkan, bukan juga untuk menyalahkan satu sama lain, tapi untuk diperbaiki. Anak yang pernah mendapatkan paksaan dari orang tuanya harus belajar, kemudian merubahnya ketika dia mejadi orang tua. Akhrinya, aku membuka pertanyaan " Ada gak perlakuan dari orang tua kamu yang nantinya tidak akan kamu lakukan lagi ke anak?" dan ini beberapa jawabannya:

"Not to teach them who to love."
"Ada. Mereka mengekang untuk kemana-mana jadi ketika di Jakarta aku males pulang"
"Banding-bandingin gue sama temen yang katanya rajin belajar tapi tetep aja masih pinteran gue."
"Gak mau ngatur-ngatur hidup anak gue pas udah 18 tahun. They free to do what they want."
"Ada banyak. Salah satunya gak akan ngelakuin kekerasan fisik karena itu gak baik buat anak."
"Memaksakan kehendak."
"Ada. Aku gak mau membatasi anak aku dalam mengeksplore sesuatu."
"Ngedidik dan memperlakukan istrinya."
"Perlakuan jewer telinga atau ngomong kasar kalo ketauan ngerokok."
"Maksa milih jurusan kuliah."
"Ngelarang hobby. Dulu aku sempet sering dimarahin kalau main bola, katanya ganggu konsentrasi belajar."
"Biarkan anak memilih agamanya."


---

Terima kasih diskusinya teman-teman. Senang sekali banyak yang mengevaluasi dan mencegah hal yang dirasa kurang baik terjadi berulang. Fenomena ini adalah bukti bahwa menjadi orang tua itu tidak mudah. Yakin sudah siap?

Join the conversation!

Latest Instagrams

© Grow Bold, not Just Old. Design by FCD.