Lintasi Batas Negara demi Pendidikan di Tanah Air Tercinta

Ada yang berbeda dari perjalanan sekolah Nur Saka. Setiap hari dia menempuh perjalanan kurang lebih 16km dan terlebih dahulu melewati PLBN (Pos Lintas Batas Negara). Ya, rumah Saka ada di Tebedu, Serawak, Malaysia tetapi sekolahnya di Entikong, Kalimantan Barat, Indonesia. Lalu kenapa Saka sekolah di Indonesia pedahal rumahnya di Malaysia?

Nur Saka bersama petugas imigrasi (Foto: Okezone)

Nur Saka memang Warga Negara Indonesia (WNI). Dia juga lahir di Indonesia, dulu ayahnya membuka usaha warung makan di Entikong yang merupakan wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Namun karena pekerjaan orang tuanya harus berpindah ke Malaysia, sekarang dia tinggal di Malaysia tetapi tetap bersekolah di Indonesia dengan melewati border setiap harinya.

Sejak TK, Nur Saka terbiasa bolak-balik Malaysia-Indonesia setiap harinya. Dulu setiap hari dia diantar ayahnya hingga kelas 2 SD dia mulai belajar berangkat sendiri. Jam 5 pagi waktu Malaysia, Saka sudah bangun dan bersiap untuk sekolah. Ayahnya membantu menyiapkan kebutuhan Saka bersekolah termasuk menyiapkan PAS lintas batas dan paspor yang akan diperiksa di PLBN oleh imigrasi Indonesia. Saka berangkat dengan menggunakan angkutan tujuan border atau terkadang diantar ayahnya. Setelah melewati perbatasan, dia melanjutkan penjalanan ke sekolah dengan menggunakan ojek sejauh 5km. Begitu terus setiap hari.

"Saya bangga menjadi anak Indonesia, makannya saya sekolah di SDN 03 Sontas saja."

Orang tua Saka menyekolahkan Saka di Indonesia memang salah satu alasannya adalah keterbatasan ekonomi. Sekolah di Malaysia membutuhkan syarat khusus yang harus dipenuhi karena keluarga Saka sendiri adalah WNI. Tapi, orang tua Saka pun ingin anak-anaknya menuntut ilmu di negeri sendiri yaitu Indonesia dan sepertinya Saka juga sangat mencintai Indonesia. Ketika ditawari untuk sekolah di Malaysia, Saka menjawab "Saya bangga menjadi anak Indonesia, makannya saya sekolah di SDN 03 Sontas saja.".

Foto: Kompas

"Saya cuma tamatan SD, makannya saya gak mau anak-anak saya seperti saya."

Ayah Saka, Bapak Sudarsono terlihat yang paling bersemangat mendukung anaknya untuk bisa mengenyam pendidikan di Indonesia. Beliau memiliki keinginan agar anak-anaknya bisa bersekolah setinggi-tingginya hingga menjadi seorang sarjana karena tidak mau anak-anaknya seperti beliau yang hanya lulusan SD.

Saka memiliki kakak yang sudah menjadi sarjana di Universitas Jember, tinggal menunggu wisuda bulan November mendatang. Bapak Sudarsono telah berhasil mengantarkan satu anaknya menjadi seorang sarjana dan masih tetap berjuang untuk Saka dan adiknya.

Nur Saka dan ayahnya (foto: Kompas)

Saka dan tabungannya

Saka adalah anak yang rajin menabung. Sampai suatu ketika, kakaknya membutuhkan biaya kuliah dan Saka dengan senang hati memberikan uang tabungannya kepada kakaknya. Ketika ditanya "Saka gpp uang tabungannya diambil?", dia menjawab "Gpp, kan buat kakak.".

Aku merasa takjub mengapa anak sekecil itu sudah bisa bijaksana dan besar hati? 

Di acara Hitam Putih, saka diberikan hadiah celengan ayam beserta uang tunai ratusan ribu dari Deddy Corbuzier yang langsung dimasukan ke dalam celengan ayamnya. Ketika ditanya uangnya untuk apa? Beli laptop? Beli jam tangan?, Saka lagi lagi menjawab bahwa uangnya untuk kakak. 

Saka cinta Indonesia

Nasionalisme Saka sudah tidak perlu diragukan lagi. Dia bangga menjadi anak Indonesia. Dia menempuh puluhan kilometer setiap harinya untuk mengenyam pendidikan di Indonesia. Dia gemar menyanyi, dan tahu lagu apa yang dinyanyikannya ketika diminta untuk bernyanyi di Hitam Putih? Lagu Satu Nusa Satu Bangsa! 

Mengapa harus lagu itu yang dipilih? Karena Saka cinta Indonesia.

Karena semangatnya yang meninspirasi, Saka mendapatkan banyak perhatian dan apresiasi salah satunya dia mendapatkan sepeda dari Presiden Indonesia Bapak Jokowi yang memang sudah dia idam-idamkan. Selain sepeda, Saka juga mendapatkan beasiswa pendidikan dari salah satu BUMN.

Saka dan sepeda barunya (Foto: Tribun News)

Terima kasih Saka telah mengingatkan kami bahwa mencintai negeri sendiri tidak perlu dengan basa-basi.

Terima kasih Saka telah mengajari bahwa yang kaya adalah yang ikhlas memberi, bukan yang melimpah materi.

Terima kasih Saka telah menginspirasi. 


Join the conversation!

Latest Instagrams

© Grow Bold, not Just Old. Design by FCD.