Berbicara mengenai Pernikahan

Pernah membayangkan menjadi Raja / Ratu sehari? Diawali dengan mengucap janji suci dan melingkarkan cincin di jari manis, kemudian berakhir dengan ciuman di kening diiringi lagu "Beautiful In White"-nya Weslife. Semua mata tertuju padamu dan pasanganmu. Kebahagiaan bagi orang-orang terdekatmu,yang haru melihatmu memutuskan menempuh hidup baru bersama yang terkasih. Pernah membayangkan?

Photo by Google

Siang ini aku berdiskusi panjang mengenai "Pernikahan" dengan Mbak Wita, seorang Psikolog dari Tiga Generasi yang berfokus menangani masalah dalam sebuah hubungan. Kami mengawali pembicaraan dengan melihat fenomena sosial saat ini dimana gencarnya keinginan nikah muda yang bahkan sudah diidam-idamkan para remaja. Lantas, apakah mereka tahu kenapa mereka ingin menikah muda?

Berdasarkan pengamatan kami, nikah muda yang menjadi sebuah tren memiliki daya tarik tersendiri sehingga menjadi sesuatu yang diidam-idamkan. Bayangan mengenai indahnya sebuah pesta pernikahan dan romantisnya sebuah hubungan suami-istri menjadi dua dari sekian banyak faktor yang mempengaruhinya. Aku tidak berani menulis ini berdasarkan asumsiku sendiri, tapi Mbak Wita dan pengalaman nyata beberapa orang memberikan bukti nyata bahwa generasi muda saat ini mendambakan sebuah "pesta" pernikahan dan segala keindahannya, sedangkan hidup tak selalu manis dan langit tak selalu cerah.

Lontaran keinginan "Nunggu di halal-in" semakin sering terdengar. Tidak ada yang salah dari sebuah kampanye nikah muda, yang salah adalah tidak semua orang bisa berfikir logis mengenai sebuah pernikahan. Nikah muda bukanlah satu-satunya solusi untuk menghindari zinah, puasa pun dianjurkan ketika manusia belum siap untuk menikah. Ada yang beruntung dengan pernikahannya, dan dia hidup dengan bahagia. Tapi tak jarang pula yang gagal dan menyebabkan perpisahan.

Untuk mempersiapkan sebuah pernikahan, tidak cukup hanya dengan cinta dan persiapan pesta. Renungkan baik-baik orang yang akan menemanimu seumur hidup, yang akan menjadi orang tua bagi anakmu, yang akan berjuang bersama melewati segala cobaan hidup. Apakah dia orang yang tepat? Apakah kalian akan bisa saling menguatkan? Apakah kalian bisa menjadi tauladan bagi anak-anak kalian kelak? Jika masih sebatas membayangkan enaknya saja, silahkan merenung. Badai kehidupan akan datang lebih kuat setelah pernikahan.

Menurut Mbak Wita, ada banyak sekali orang yang memutuskan berpisah meskipun baru berumah tangga dikarenakan ada banyak hal yang tidak baik dari pasangannya yang baru saja mereka sadari. Jadi, ketika masa saling mengenal mereka belum benar-benar mengenal satu sama lain. Ada banyak hal yang ditutupi satu sama lain, sehingga ketika sudah berumah tangga baru keluar aslinya dan pasangannya terkejut dengan sikapnya yang berubah. Pedahal itu memang sikap aslinya, hanya ditutupi dari pasangannya. Pentingnya saling terbuka dalam suatu hubungan yang akan membawa kalian ke dalam fase saling menerima.

Tidak jarang juga, gengsi dalam membuat sebuah pesta pernikahan yang mewah membuat pasangan harus memutar otak bahkan sampai meminjam sana-sini. Dampaknya akan dirasakan ketika pesta usai, bahwa ada beban yang harus ditanggung untuk menutup gengsi itu. Perlu diingat bahwa pesta pernikahan bukanlah sebuah keharusan, dan gengsi bukanlah hal yang wajib diikuti. Semampunya saja, keharmonisan rumah tangga tidak ada hubungannya dengan pesta pernikahan.

Sebelum memutuskan untuk menempuh hidup baru dengan pasangan, kamu juga harus mengenal diri sendiri dengan baik. Sebelum menikah sering-seringlah berdiskusi dengan calon pasangan mengenai banyak hal. Komunikasi adalah hal penting dalam sebuah hubungan. Jangan memaklumi kesalahan fatal pasangan yang berulang-ulang atas dasar cinta dan harapan bahwa dia bisa berubah, karena ketika menikah hal itu bisa saja terulang lagi bahkan lebih parah dari sebelumnya.

Ada cerita, seorang wanita memilih menikah dengan seorang laki-laki yang seorang penjudi. Sejak berpacaran dia tahu bahwa calon suaminya seorang penjudi, tetapi dia menutup mata dan memiliki keyakinan bahwa ketika menjadi suami kebiasaannya akan berubah. Nyatanya, setelah menjadi suami tidak ada yang berubah, bahkan ketika memiliki anak. Perangainya makin parah, sampai bermain fisik dan kata-kata. Sampai akhirnya dia sadar dan berfikir, apa yang bisa diharapkan dari suaminya? Bahkan menjadi teladan bagi anaknya pun dia tidak bisa.

Keputusan menikah itu akan berdampak kepada banyak hal. Pernikahan adalah perjuangan pasangan, tidak bisa hanya salah satu saja yang berjuang harus keduanya. Maka dari itu, pernikahan menuntut kerja sama yang baik antara istri dan suami. Kegagalan dalam bekerja sama inilah yang menyebabkan tekanan secara psikis. Ketika memiliki anak, anak akan mencontoh orang tuanya dan apa yang diajarkan kepadanya. Tanpa disadari, karakter anak adalah hasil dari didikan orang tuanya. Karakter tersebut terbentuk dengan membutuhkan waktu yang lama yaitu sejak dari bayi. Ada banyak sekali kebiasaan-kebiasaan orang tua yang tidak disadari membentuk karakter anak.

Pernikahan juga berati menyatukan kedua keluarga. Kamu tidak hanya menikah dengan pasanganmu, tetapi juga dengan keluarganya. Tak jarang masalah dalam rumah tangga pun muncul karena itu. Bisa saja dari mertua, orang tua sendiri, bahkan sodara-sodara.

Untuk kalian yang beruntung bisa menikah dengan orang yang tepat dan berbahagia, bersyukurlah. Jangan anggap tulisan ini sebagai tulisan yang menakut-nakuti orang untuk menikah, justru sebaliknya. Inilah sisi lain dari sebuah pernikahan yang terlihat indah dari luar dan membuat iri orang banyak. Jangan karena usia jadi memutuskan untuk buru-buru menikah dan tidak mempertimbangkan hal lain. Usia hanyalah angka. Kedewasaan dan kesiapanlah yang sebenarnya menjadi patokan keputusan untuk menikah.


Join the conversation!

Latest Instagrams

© Grow Bold, not Just Old. Design by FCD.