Sisi Lain Jakarta: (Definisi) Bahagia

Pasar malam kecil-kecilan di tengah megahnya ibu kota.  Begitu ramai. Makanan, pakaian, mainan, hiburan, tumpah ruah dalam satu tempat terbatas tetapi penuh tawa. Aku berjalan, melewati tawa anak kecil yang sedang bermain menangkap ikan. Tak jauh dari sana, aku menangkap mata yang berbinar karena barang yang dia inginkan bisa ditawar lebih murah. Suara pedagang yang semangat menjajakan dagangannya, tidak luput dari pendengaran. Aku berhenti di sebuah stand makanan, dimana anak kecil dengan sigap emmbantu ibunya berjualan. Tangan-tangan kecilnya, memasukan otak-otak ke dalam minyak panas, menunggu beberapa menit, lalu meniriskannya. Tak lupa ia bertanya kepada pembeli, “Mbak, mau pake saos mayonaise? Pedes apa enggak?”, dan dengan sigap menuangkan saos dan mayonaise sesuai dengan yang pembeli katakan. Tak lupa ia ucapkan terima kasih sembari memberikan pesanan pembeli.

Berjalan semakin jauh, tiba di sebuah kerumunan dengan suara musik yang cukup keras. Dua mahluk besar menari-nari diantara kerumunan orang-orang. Ternyata, itu ondel-ondel. Ciri khas dari Jakarta ini, berputar-putar cepat, membuat kaget sebagaian orang yang lewat dan hampir tertabrak kostum besar itu. Nampak kaki bersendal jepit menopang beban cukup berat tersebut, dan aku bertanya-tanya, sehebat apa kekuatan orang yang menopang beban seberat itu sambil menari-nari berputar di tempat yang cukup sempit? Tak lama, seorang laki-laki keluar dari kostum besar tersebut. Aku kira akan bertemu dengan sosok bapak yang tinggi besar, ternyata seorang anak remaja yang baru saja keluar. Kepala dan badannya basah oleh keringat, ada handuk kecil di pundaknya. Handuk dekil itu, digunakannya untuk mengelap keringat di dahinya. Sambil tersenyum, dia membawa kostum besar itu ke pinggir, dan beristirahat bersama teman-temannya.

Saat berbalik, aku menemukan raut wajah bahagia dari seorang ibu yang sedang mengantar anaknya naik kereta keliling. Sebenarnya bukan kereta, hanya 3 rangkaian tempat duduk beroda yang ditarik oleh motor. Bapak pengemudi nampak meminggirkan motornya sambil menunggu penumpang naik. Aku melihat kebahagiaan disana, sederhana. Namun nikmat.

Ternyata Jakarta bukan hanya tentang kemacetan, panas, dan tak sesuram yang diceritakan. Untuk kesenangan dan kebahagiaan di kota besar ini. Kesenangan mungkin bisa saja hanya milik orang-orang elite yang berlimpah harta dengan fasilitas mewah. Yang bisa jalan-jalan kesana kemari, beli ini itu, pergi dengan mobil tanpa panas dan debu. Tetapi, kebahagiaan milik semua orang. Milik orang-orang yang bersyukur. Milik orang-orang yang memilih untuk bahagia.

Di ibu kota ini, dengan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan mewah, dan tempat hiburan menarik, aku menemukan kebahagiaan ditempat yang sederhana. Mungkin memang benar, kesenangan dan kebahagiaan berbeda rasanya. Orang yang bahagia, pasti senang. Tetapi orang yang senang, belum tentu bahagia. Semakin yakin bahwa tidak adanya definisi untuk sebuah kebahagiaan. Menurutku tak semua hal bisa dijelaskan. Manusia sering kali mendefinisikan untuk memberikan batasan. Batasan hanya membuat sesuatu menjadi mutlak. Sedangkan kebahagiaan, membutuhkan sebuah ketulusan dan kebebasan.  Tanpa direncanakan, tanpa ekspektasi. Terjadi begitu saja.

Aku setuju dengan kata-kata Pramoedya Ananta Toer,

Hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat adalah tafsiranya.

Join the conversation!

Latest Instagrams

© Grow Bold, not Just Old. Design by FCD.